Hari ini di kelas Policy Futures: Local and
Global Perspective, dosen saya membahas topik Policy Transfer. Sebelumnya saya
sudah membaca teori senama dari buku Paul Cairney karena kebetulan saya mengambil
satu mata kuliah pilihan, Making Policy, yang topiknya mirip dengan modul ini.
Seperti biasanya, setelah dosen menjelaskan teori diselingi beberapa pertanyaan
kritis dari mahasiswa, maka dosen memberikan tugas pada kami untuk diskusi
kelompok. Kali ini pertanyaannya adalah contoh transfer kebijakan dari negara
maju. Grup saya beranggotakan Monica (US), Kim (Korea), Maika & Genta
(Japan), Hannah (UK), dan Thella (Indonesia). Awalnya Monica ingin membahas
contoh transfer kebijakan tentang ‘obesity in the US and the UK’. Tapi kemudian
Kim memulai percakapan dengan bercerita tentang ‘transition year’ di Korea
Selatan. Kim, yang adalah seorang jurnalis di negaranya, kelihatannya paham
betul tentang kontroversi kebijakan yang diimpor dari Irlandia ini.
Irlandia menerapkan ‘Transition
Year’ ( http://www.tyireland.com/ ) untuk memberikan
ruang dan waktu kepada siswa-siswi SMA, usia sekitar 18 tahun, agar mereka
mempersiapkan dengan matang apa yang menjadi pilihan mereka untuk lanjut ke
Universitas. Meskipun maksud dari kebijakan ini baik, tapi di Irlandia sendiri
kebijakan ini tidak bersifat wajib dan tidak dipaksakan untuk diterapkan ke
semua sekolah. Pemerintah Korea Selatan melihat hal ini cukup potensial untuk
mengembangkan kualitas pendidikan, karena itulah mereka mengimpor kebijakan ini
sejak dua tahun lalu (http://education.ie/en/Press-Events/Press-Releases/2013-Press-Releases/PR2013-10-29.html
), namun dengan format yang berbeda. Jika Irlandia menerapkan untuk jenjang SMA,
maka Korea menerapkannya untuk siswa-siswi SMP, dengan kisaran usia 13 tahun ke
atas. Selama satu semester (enam bulan) mereka tetap datang ke sekolah namun
kegiatannya lebih fokus untuk pengembangan soft-skill melalui kunjungan dan
aktivitas kreatif lainnya. Tidak ada PR maupun ujian selama tahun peralihan
ini. Namun, menurut kolega saya yang bertahun menjadi jurnalis pendidikan,
kebijakan ini terlalu dini mengingat anak usia 13 tahun belum cukup matang
untuk memutuskan apa yang akan ia tekuni menjelang SMA dan kuliah nantinya. Awalnya
hanya 10% dari total sekolah di Korea Selatan yang menguji cobakan kebijakan
ini, namun sejak setahun yang lalu pemerintah memutuskan untuk mewajibkannya di
semua sekolah. Yang menjadi sorotan adalah nyatanya infrastruktur pendidikan
untuk mengimplementasikan kebijakan ini masih minim.
Saya sempat bertanya kepada Kim, dari sekian
banyak Negara maju yang jelas-jelas punya kualitas pendidikan bagus, mengapa
Korea Selatan harus mengemulasi kebijakan pendidikan dari Irlandia? Mengapa
bukan Finlandia, yang sudah dari dahulu sejarahnya disanjung untuk kualitas
pendidikan? Atau Jepang yang setidaknya punya kultur ke-Asia-an yang sama
dengan Korea? Jika dalam teori transfer kebijakan, salah satu faktor pendorong
suatu Negara mengimpor kebijakan adalah relasi politik yang cukup erat, usut
punya usut ternyata Korea ini sudah sejak lama digelari “The Ireland of Asia”. Beberapa
alasan diantaranya, sejarah resistansi yang kuat kala penjajahan Jepang, kesamaan
karakter antara Irishman dan Korean, dan kesamaan pembagian geografis
North-South.
Fakta
yang paling kontroversial dan hingga kini dipertanyakan adalah kedua Negara ini
punya pendidikan yang kualitasnya sama bagus. Dibanding dengan Irlandia yang
butuh proses belasan tahun untuk kemudian mengimplementasikan kebijakan ‘Transition
Year’, Korea hanya butuh waktu sekitar tiga tahun untuk meniru lalu menerapkannya
di seluruh sekolah secara wajib. Namun, saya sendiri masih meragukan apakah
Transition Year di Korea akan punya outcomes yang sama dengan Irlandia. Mengutip
pernyataan dari Prof. Lee Gil-sang, professor pendidikan dari Academy of Korean
Studies, ‘Korean
education, clinging only to a change of subjects in college entrance
examination is impossible to catch up the Irish education’, saya pun sepakat dengan beliau. Pemerintah
Korea seharusnya menyelesaikan permasalahan paling fundamental dahulu, yakni beberapa
perbedaan dalam pendidikan dan membenahi ekonomi demi menunjang infrastruktur
pendidikan. Karena menurut saya, sebagus apapun kebijakan yang diimpor,
pelaksanaan bahkan hasil akan tergantung pada sumber daya dan kesiapan.
"Bagaimana jika kebijakan Transition Year ini dibawa ke Indonesia?"
Birmingham, 22 Februari 2016 6.21 PM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar